SASTRA, SEJARAH DAN PERADABAN MANUSIA

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp
Ilustrasi-AI

“tiada aksara tiada sastra, tiada sastra tiada sejarah dan tiada peradaban manusia”

Belajar dari sejarah, jauh sebelum kehadiran agama samawi, kodrati manusia telah memiliki hawa nafsu dan daya nalar, juga norma mana salah mana benar. Hal demikian sebagian orang bijak menyebutnya ‘suara nurani’ atau disebut juga dengan ungkapan ‘insan kamil’. Namun perjalanan hidup manusia tak terduga seperti yang telah direncanakanNYA, karena ternyata terjadi peristiwa tragedi  terbunuhnya Habil oleh Qabil karena perselisihan bagaimana mereka harus membuktikan persembahan atau pengabdiannya  kepada Yang Maha Pencipta.

Di sisi lain ditemukannya atau dikreasikannya aksara oleh manusia purba yang ‘cerdas’, ternyata telah mengubah sejarah perjalanan manusia atau suatu bangsa menjadi lebih baik dari sebelumnya, yang kemudian disebut sebagai peradaban. Dengan kata lain adaya sikap kolektif kelompok atau suatu bangsa untuk bagaimana memuliakan manusia itu sendiri. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan bersama dengan manusia lainnya akhirnya secara  bertahap melahirkan pengaturan bagaimana tata cara yang terbaik.

Peradaban Mesir kuno membuat huruf paku ‘hieroglif’ pada tahun 4000-3000 SM, huruf ‘lukisan’ China pada tahun 2600-an SM, lalu huruf Arab yang berasal dari Siria – Mesopotamia seputar tahun 1000 SM. Lebih lanjut bangsa Yunani – Romawi dengan huruf ‘latin’ pada 800 SM, dan bangsa India dengan huruf ‘dewanagari’  pada tahun 700 SM, yang kemudian menurunkan huruf ‘pallawa’ yang digunakan di Nusantara mulai abad 5 M di Kutai dan Taruma Negara hingga abad 15 di Singasari dan Majapahit. Seterusnya berkembang menjadi huruf Jawa dan Sunda Kuno.  Sedang huruf Batak, Bugis dan Lampung tercatat digunakan sejak abad 15-16 M, yang diduga pengembangan dari huruf India kuno.

Sementara itu, penggunaan huruf oleh tiap komunitas disesuaikan dengan bahasa masing-masing, yang sekaligus kemudian mencerminkan kekhasan budayanya. Misal dalam Bahasa Jawa dan Sunda ada bentuk huruf tertentu yang digunakan untuk menuliskan nama atau sesuatu yang dianggap bernilai lebih tinggi / terhormat.

Lebih jauh, dalam perkembangannya kemudian huruf digunakan manusia sebagai ‘lambang bunyi’, yang digunakan sebagai sarana komunikasi dalam bermasyarakat. Dari sendiri kemudian menjadi berkeluarga, lalu bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selanjutnya muncul ‘etika’ atas kesadaran bersama atau pun atas kebijakan para pemimpin / yang dituakan di antara mereka. Dan kemudian jika pengaturan itu dapat diterima mayoritas komunitasnya, jadilah apa yang disebut hukum. Sebelum dikenal alat tulis seperti lontar, kulit binatang dan kertas,  kebijakan sang pemimpin atau kesepakatan bersama itu dipublikasikan dalam bentuk ‘prasasti’ batu atau pun logam.

Kecuali sebagai jembatan komunikasi, huruf dipakai untuk mencatat berbagai hal. Ketika digunakan untuk mencatat kebijakan raja dalam mengatur pemerintahan, akan disebut undang-undang. Ketika ditulis oleh para ahli ilmu pengetahuan dan teknologi, akan menjadi sarana memajukan kehidupan manusia. Ketika untuk menulis karya fiksi akan menjadi karya seni budaya. Demikian seterusnya segala hal yang dicatat secara langsung maupun tak langsung menjadi sumber sejarah dan sumber ilmu pengetahuan, yang bermuara pada kemajuan peradaban manusia.

Secara wantah bisa terbayangkan, tanpa rumus matematika, fisika dan kimia tak mungkin dibangun piramida Mesir, candi Borobudur, atau menara Eiffel. Tanpa astronomi atau  perbintangan tak mungkin ada pelayaran antar benua dan penerbangan ke luar angkasa. . Tanpa temuan prinsip ‘Trias Politika’, mustahil terwujud sistim demokrasi dalam pemerintahan suatu negara. 

Begitulah pungkasannya bahwa temuan atau terciptanya aksara, terwujudlah karya sastra dan ilmu pengetahuan, kemudian terhimpun menjadi sejarah yang memungkinkan kemajuan peradaban manusia. Namun harus dicatat perubahan-perubahan untuk menjadi lebih baik di segala bidang adalah bersifat alami, dan disinilah manusia dituntut untuk memiliki daya adaptasi yang tinggi, dengan  tanpa melepaskan etika dalam jatidirinya.

Bumi Bagelen, Juli 2026

Soekoso DM  

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Never miss any important news. Subscribe to our newsletter.

Tinggalkan Balasan