Membaca baris-baris puisi pada kumpulan puisi Zwarte Hollanders karya Dulrokhim, saya langsung teringat pada gang yang jaraknya sekitar satu kilometer dari tempat tinggal saya: Gang Afrikan. Teman-teman saya cukup banyak yang bisa menceritakan alasan mengapa gang tersebut punya nama seunik itu. Namun, saya baru benar-benar paham setelah membaca buku kumpulan puisi ini.
Membaca baris-baris dan bait-bait puisi yang ditulis dengan rapi dalam buku kumpulan puisi ini seakan saya dibawa ke ranah prosa – seolah saya membaca kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf yang ditulis dengan tertib. Dan, ini mengingatkan saya pada macam puisi yang belum lama ini ramai diperdebatkan kehadirannya oleh para sastrawan: puisi esai.
Saya bukan pendukung atau penolak gagasan penulisan puisi esai. Bagi saya lahirnya macam puisi ini hanyalah menambah macam-macam puisi yang sudah ada sejauh ini, misalnya adanya macam puisi panggung, puisi kamar, puisi mantra, puisi mbeling, puisi sufi, dll. Yang menarik bagi saya justru kritik-kritik yang ditujukan pada penggagas penulisan puisi esai ini, yang konon ingin dinobatkan sebagai salah satu dari 33 sastrawan paling berpengaruh di Indonesia.
Kita tahu sastra jenis puisi sudah dikenal bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan Nusantara berabad-abad lamanya sebelum para pemuda mengikrarkan sumpahnya untuk berbangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia pada 1928. Sementara sastra jenis prosa baru dikenal kalangan terpelajar pada 1920an, yaitu setelah Commissie Voor de Volkslectuur atau Komisi Bacaan Rakyat didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1908 (yang pada 1917 komisi itu menjadi Balai Pustaka). Leluhur kita memang lebih akrab dengan karya sastra jenis puisi (yang dilisankan atau ditembangkan) ketimbang prosa (yang dituliskan pada buku-buku).
Kalau puisi esai tercipta hanya dengan cara mengubah kalimat menjadi baris dan paragraf menjadi bait dengan tambahan sederet catatan kaki di bawahnya, saya percaya (yang dimaksudkan penyairnya sebagai) puisi itu bakal gagal tampil sebagai puisi. Rangkaian kata itu tetaplah prosa yang dipaksa menjadi puisi. Dan, apa pun yang dipaksa biasanya akan menemui kegagalan.
Apa yang dilakukan Dulrokhim tidak sekadar membariskan kalimat dan membaitkan paragraf sehingga bentuknya seperti puisi; tampak terbaca bahwa penyair ini telah benar-benar bergulat dengan kata untuk melahirkan puisi dalam arti sesungguhnya. Peristiwa kesejarahan yang mula-mula ditulis secara prosa benar-benar diperhitungkan bunyinya pada saat tulisan itu tampil dalam baris dan bait puisi-puisinya.
Tulisan prosa punya perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan tulisan puisi. Sapardi Djoko Damono pernah menyatakan bahwa puisi pada dasarnya adalah bunyi; saya percaya itu. Itulah sebabnya lebih banyak puisi yang gagal bila diterjemahkan dalam bahasa kedua atau bahasa asing bagi penyairnya. Hanya sedikit sastrawan atau penulis yang berhasil menerjemahkan puisi berbahasa asing ke dalam bahasa pertamanya (bahasa ibunya) atau sebaliknya. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Chairil Anwar, yang menerjemahkan puisi-puisi berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia secara kreatif.
Puisi-puisi yang ada dalam buku kumpulan puisi ini dapat dikatakan pesannya dapat dimengerti dengan mudah dan bunyinya dapat dinikmati dengan nyaman. Dan, menulis puisi-puisi semacam itu bukan pekerjaan mudah. Dulrokhim, penyair yang sudah punya jam terbang tinggi ini, terlihat tidak mengalami kerepotan mempuisikan prosa yang dikehendakinya.
Dari puisi-puisi yang saya percaya berbahan baku prosa ini, keberhasilan yang dicapai tiap puisi berbeda-beda. Bila penyairnya terlalu bersemangat menampilkan catatan kesejarahan, puisinya jadi semacam puisi esai biasa. Namun, puisi yang ditulis karena kesan mendalam yang dirasakan penyairnya (termasuk keharuan, kejijikan, maupun kemarahan), maka puisi itu tampil jauh lebih memikat.
Upaya memindah atau menyalin tulisan prosa menjadi puisi tentu kebutuhannya berbeda dengan menyalin puisi menjadi prosa. Kalau yang disebutkan belakangan – dari puisi ke prosa – adalah untuk lebih dapat dimengerti pembacanya; sedangkan yang disebutkan di depan – dari prosa ke puisi – adalah untuk lebih dapat dinikmati pembacanya.
Sebagai sekadar contoh, pada saat kita berada di sebuah seminar atau temu ilmiah, bila ada pembicara kunci yang mengutip atau membaca puisi (tentu puisi yang sejalan dengan topik yang diusungnya), akan terdengar begitu indah rangkaian kata-kata yang diucapkannya itu. Prof. Eko Budihardjo pada tahun 1990an dulu pernah begitu fasih melakukannya. Saking seringnya almarhum menampilkan puisi dalam presentasinya, pada saat dosen Universitas Diponegoro itu hendak tampil – akademisi yang piawai menggabungkan kepakarannya dalam bidang teknik dengan kebudayaan – hadirin sering terdengar lantang mengingatkan, “Puisinya, Prof!”
Puisi-puisi yang ada di buku kumpulan puisi ini tidak berlebihan kalau saya katakan erat kaitannya dengan karya tulis anak bangsa yang sudah lama mendunia. Bila kita lihat laman UNESCO pada bagian the Memory of the World, kita dapat melihat setidaknya ada tiga karya sastrawi anak bangsa yang masuk ke program lembaga dunia itu, yaitu La Galigo, Cerita Panji, dan Babad Dipanegara. Hubungan kumpulan puisi ini dengan “ingatan dunia” itu ada dalam tokoh yang sering disebut – baik secara tersurat maupun tersirat – bupati pertama Kabupaten Purworejo. Cakranegara I, bupati pertama itu, yang punya nama muda Resadiwirya, adalah teman seperguruan Pangeran Dipanegara yang menulis Babad Dipanegara. Tokoh yang berhasil menumpas Laskar Dipanegaran di wilayah Bagelen itu kemudian juga menulis buku Babad Kedungkebo yang juga mengisahkan perannya dalam Perang Jawa 1825-1830 yang dicetuskan oleh sang pangeran dari Yogyakarta itu.
Kabupaten Purworejo, di mana Gang Afrikan berada, adalah kabupaten baru yang muncul karena ketokohan Resadiwirya yang diminta Belanda untuk memadamkan perlawanan Pangeran Dipanegara. Resadiwirya berhasil mengalahkan laskar Dipanegaran. Dan, karena keberhasilannya itu dia diangkat menjadi bupati pertama Kabupaten Purworejo. Kedudukan Purworejo yang didirikan oleh seorang yang menjadi lawan seorang pahlawan nasional ini menjadi latar yang dapat menjelaskan keberadaan para serdadu Belanda yang berasal dari Afrika yang dulu ditempatkan di kawasan Gang Afrikan itu.
Buku kumpulan puisi yang menampilkan catatan kesejarahan dalam wujud baris-baris puisi sebanyak 33 judul puisi ini tentu para pembaca budiman yang dapat menilai keberhasilan atau kegagalannya. Selamat memaknai pesannya dan menikmati bunyinya.
Purworejo, akhir Februari 2026
Junaedi Setiyono





